Showing posts with label naskah drama. Show all posts
Showing posts with label naskah drama. Show all posts

Naskah Drama 5 orang Bahasa Indonesia

Contoh naskah drama untuk 5 orang di dalam kelas bisa beraneka bentuk dan cerita. silahkan semoga bermanfaat untuk tugas bahasa indonesia. Bagaimana cara membuat naskah drama? Naskah drama ini mengambil tema tentang persahabatan dan kepekaan sosial. Contoh Naskah Drama 5 Orang. Ini adalah pagi yang cerah. Naskah Contoh Drama Persahabatan 5 Orang silahkan bisa disimak untuk artikelnya guna menyelesaikan tugas bahasa indonesia dimana sebagai referensi untuk naskah drama 5 Orang – Berikut ini adalah contoh drama 5 orang dimana semua pemain bisa kita diskusikan dengan teman lainya untuk memilih peran yang cocok Naskah Drama 5 Orang


Ini adalah pagi yang cerah. Mita dan Doni, dua orang siswa kelas VII sedang asyik membaca-baca buku Biologi di koridor sekolah. Pasalnya nanti siang akan ada ulangan harian mata pelajaran tersebut. Kemudian datang Anggi, sahabat mereka.
Anggi: “Mit, Don, rajin sekali kalian berdua!”
Mita: “Iya dong, tugas kita sebagai pelajar kan memang harus belajar. Hehehe…”
Anggi: “Iya juga sih. Eh ngomong-ngomong kalian tahu tidak, ada murid baru yang akan masuk ke kelas kita hari ini.”
Doni: “Oh ya, siapa namanya? Lelaki atau perempuan?”
Anggi: “Lelaki, tapi aku juga belum tahu siapa namanya dan seperti apa rupanya.”
[Bel sekolah berbunyi]
Mita: “Eh ayo masuk kelas!”
[Ketiganya memasuki ruang kelas. Ibu guru masuk bersama seorang murid baru.]
Ibu Guru: “Selamat pagi, anak-anak. Hari ini kita kedatangan teman baru dari Aceh, ia akan menjadi teman sekelas kalian. Silakan perkenalkan dirimu, nak!”
Ridwan
Ridwan: “Selamat pagi, teman-teman. Nama saya Muhammad Ridwan. Saya berasal dari Aceh.”
Mita [berbisik pada Anggi]: “Jauh sekali ya, dari Aceh pindah ke Bandung!”
[Anggi hanya mengangguk tanda setuju]
Ibu Guru: “Ridwan, kamu duduk di belakang Doni ya [menunjuk sebuah meja kosong]. Untuk sementara kamu duduk sendiri dahulu karena jumlah siswa di kelas ini ganjil.”
[Ridwan segera duduk di kursi yang disediakan]
Ibu Guru: “Ya baiklah, sekarang kita mulai pelajaran hari ini. Buka buku kalian di halaman 48….”
[Pelajaran pun dimulai]
Tiba saatnya jam istirahat. Ridwan, yang belum memiliki teman, diam saja duduk di kursinya sambil menunduk. Rupanya belum ada yang mau mendekati Ridwan. Semua siswa di kelas itu masih sungkan dan hanya mau tersenyum saja padanya tanpa berani mengajak ngobrol lebih lanjut.
Doni: “Psst, Mit, Nggi, coba lihat anak baru itu, sendirian saja ya!” [berbisik pada Mita dan Anggi saat mereka baru kembali dari kantin]
Mita: “Ayo kita dekati saja.” [Ketiganya menghampiri Ridwan]
Anggi: “Hei, Ridwan. Kenalkan, aku Anggi, ini Ridwan dan Mita [menunjuk kedua temannya].”
[Ketiganya duduk di sekeliling Ridwan]
Ridwan: “Hai, salam kenal.”
Doni: “Kamu kok tidak jajan ke kantin?”
Ridwan: “Aku… Aku bawa bekal makanan [pelan sekali, sambil tertunduk].”
Mita: “Oh begitu, rajin sekali kamu, Wan!
[Keempat siswa ini mulai terlibat obrolan ringan sehingga Ridwan merasa ditemani]
Saat jam pulang sekolah, Ibu Guru memanggil Anggi dan Doni yang hendak pulang ke rumah.
Ibu Guru: “Anggi, Doni! Ke sini sebentar. Ibu mau menanyakan sesuatu.”
[Anggi dan Doni menghampiri Ibu Guru]
Doni: “Ada apa, Bu?”
Ibu Guru: “Itu, bagaimana perilaku Ridwan di kelas? Apakah ia bisa membaur?”
Doni: “Dia agak pendiam, Bu. Dan suka menunduk saat berbicara.”
Anggi: “Tadi di jam istirahat, kami berdua dan Mita berusaha mendekatinya. Kami mengobrol cukup lama, ia anak yang baik kok, hanya saja ia seperti agak kurang percaya diri dan muram.”
Ibu Guru: “Hmm… begitu ya. Anak-anak, Ridwan adalah salah satu korban selamat tragedi tsunami Aceh beberapa bulan yang lalu. Kedua orang tuanya tewas terhempas ombak. Kini hanya tinggal ia dan adik perempuannya, Annisa. Annisa masih duduk di kelas 4 SD, di SD V kota kita ini.”
Anggi: “Ya Tuhan, sungguh berat cobaan yang menimpanya…”
Ibu Guru: “Iya. Untungnya, seorang pamannya tinggal di Bandung sehingga ia dan adiknya tinggal di sini. Mereka tergolong masyarakat prasejahtera, sehingga Ridwan benar-benar harus berhemat. Pamannya berkata pada Ibu tadi pagi, ia tak mampu memberi uang jajan yang cukup untuk Ridwan sehingga Ridwan harus bekal nasi setiap hari agar tidak lapar di sekolah.”
Doni: “Oh pantas saja tadi jam istirahat ia tidak ke kantin.”
Ibu Guru: “Ya sudah, Ibu cuma mau bilang begitu. Kalian berbaik-baiklah dengannya. Temani dia agar tak merasa kesepian dan terus berduka.”
[Anggi dan Doni pamit kemudian pulang]
Di rumahnya, Doni terus menerus memikirkan teman barunya, Ridwan. Akhirnya ia mendapatkan suatu ide. Dikabarkannya Anggi dan Mita melalui SMS. Keesokan harinya di jam istirahat….
Doni: “Eh, kalian membawa apa yang aku bilang kemarin, kan?”
Mita: “Bawa dong. Ayo kita dekati Ridwan.”
Anggi: “Ridwan, bolehkah kami bertiga makan bersamamu?”
Ridwan: [kikuk dan kebingungan] “Eh, um.. boleh saja..”
Doni, Anggi, dan Mita mengeluarkan bekal makanan mereka. Ketiganya juga membawa makanan camilan untuk dimakan bersama-sama, tentu saja Ridwan juga kebagian. Dengan makan bersama setiap hari, mereka berharap bisa membuat Ridwan lebih ceria. Setelah makan…
Ridwan: “Terima kasih, teman-teman. Kalian sangat baik kepadaku.”
Mita: “Kamu ini bicara apa, sih? Kita kan teman, wajar saja jika kita saling bersikap baik.”
Semenjak itu Ridwan menjadi semakin kuat karena dukungan teman-teman barunya. Siswa-siswa lain di kelas itu pun banyak yang bergabung membawa bekal untuk dimakan bersama-sama pada jam istirahat. Suasana menjadi semakin menyenangkan.
mungkin segitu saja Contoh Naskah Drama 5 Orang yang bisa saya share kali ini, semoga bermanfaat. sumber: dari berbagai sumber
Contoh naskah drama untuk 5 orang di dalam kelas bisa beraneka bentuk dan cerita. silahkan semoga bermanfaat untuk tugas bahasa indonesia. Bagaimana cara membuat naskah drama? Naskah drama ini mengambil tema tentang persahabatan dan kepekaan sosial. Contoh Naskah Drama 5 Orang. Ini adalah pagi yang cerah. Naskah Contoh Drama Persahabatan 5 Orang silahkan bisa disimak untuk artikelnya guna menyelesaikan tugas bahasa indonesia dimana sebagai referensi untuk naskah drama 5 Orang – Berikut ini adalah contoh drama 5 orang dimana semua pemain bisa kita diskusikan dengan teman lainya untuk memilih peran yang cocok Naskah Drama 5 Orang


Ini adalah pagi yang cerah. Mita dan Doni, dua orang siswa kelas VII sedang asyik membaca-baca buku Biologi di koridor sekolah. Pasalnya nanti siang akan ada ulangan harian mata pelajaran tersebut. Kemudian datang Anggi, sahabat mereka.
Anggi: “Mit, Don, rajin sekali kalian berdua!”
Mita: “Iya dong, tugas kita sebagai pelajar kan memang harus belajar. Hehehe…”
Anggi: “Iya juga sih. Eh ngomong-ngomong kalian tahu tidak, ada murid baru yang akan masuk ke kelas kita hari ini.”
Doni: “Oh ya, siapa namanya? Lelaki atau perempuan?”
Anggi: “Lelaki, tapi aku juga belum tahu siapa namanya dan seperti apa rupanya.”
[Bel sekolah berbunyi]
Mita: “Eh ayo masuk kelas!”
[Ketiganya memasuki ruang kelas. Ibu guru masuk bersama seorang murid baru.]
Ibu Guru: “Selamat pagi, anak-anak. Hari ini kita kedatangan teman baru dari Aceh, ia akan menjadi teman sekelas kalian. Silakan perkenalkan dirimu, nak!”
Ridwan
Ridwan: “Selamat pagi, teman-teman. Nama saya Muhammad Ridwan. Saya berasal dari Aceh.”
Mita [berbisik pada Anggi]: “Jauh sekali ya, dari Aceh pindah ke Bandung!”
[Anggi hanya mengangguk tanda setuju]
Ibu Guru: “Ridwan, kamu duduk di belakang Doni ya [menunjuk sebuah meja kosong]. Untuk sementara kamu duduk sendiri dahulu karena jumlah siswa di kelas ini ganjil.”
[Ridwan segera duduk di kursi yang disediakan]
Ibu Guru: “Ya baiklah, sekarang kita mulai pelajaran hari ini. Buka buku kalian di halaman 48….”
[Pelajaran pun dimulai]
Tiba saatnya jam istirahat. Ridwan, yang belum memiliki teman, diam saja duduk di kursinya sambil menunduk. Rupanya belum ada yang mau mendekati Ridwan. Semua siswa di kelas itu masih sungkan dan hanya mau tersenyum saja padanya tanpa berani mengajak ngobrol lebih lanjut.
Doni: “Psst, Mit, Nggi, coba lihat anak baru itu, sendirian saja ya!” [berbisik pada Mita dan Anggi saat mereka baru kembali dari kantin]
Mita: “Ayo kita dekati saja.” [Ketiganya menghampiri Ridwan]
Anggi: “Hei, Ridwan. Kenalkan, aku Anggi, ini Ridwan dan Mita [menunjuk kedua temannya].”
[Ketiganya duduk di sekeliling Ridwan]
Ridwan: “Hai, salam kenal.”
Doni: “Kamu kok tidak jajan ke kantin?”
Ridwan: “Aku… Aku bawa bekal makanan [pelan sekali, sambil tertunduk].”
Mita: “Oh begitu, rajin sekali kamu, Wan!
[Keempat siswa ini mulai terlibat obrolan ringan sehingga Ridwan merasa ditemani]
Saat jam pulang sekolah, Ibu Guru memanggil Anggi dan Doni yang hendak pulang ke rumah.
Ibu Guru: “Anggi, Doni! Ke sini sebentar. Ibu mau menanyakan sesuatu.”
[Anggi dan Doni menghampiri Ibu Guru]
Doni: “Ada apa, Bu?”
Ibu Guru: “Itu, bagaimana perilaku Ridwan di kelas? Apakah ia bisa membaur?”
Doni: “Dia agak pendiam, Bu. Dan suka menunduk saat berbicara.”
Anggi: “Tadi di jam istirahat, kami berdua dan Mita berusaha mendekatinya. Kami mengobrol cukup lama, ia anak yang baik kok, hanya saja ia seperti agak kurang percaya diri dan muram.”
Ibu Guru: “Hmm… begitu ya. Anak-anak, Ridwan adalah salah satu korban selamat tragedi tsunami Aceh beberapa bulan yang lalu. Kedua orang tuanya tewas terhempas ombak. Kini hanya tinggal ia dan adik perempuannya, Annisa. Annisa masih duduk di kelas 4 SD, di SD V kota kita ini.”
Anggi: “Ya Tuhan, sungguh berat cobaan yang menimpanya…”
Ibu Guru: “Iya. Untungnya, seorang pamannya tinggal di Bandung sehingga ia dan adiknya tinggal di sini. Mereka tergolong masyarakat prasejahtera, sehingga Ridwan benar-benar harus berhemat. Pamannya berkata pada Ibu tadi pagi, ia tak mampu memberi uang jajan yang cukup untuk Ridwan sehingga Ridwan harus bekal nasi setiap hari agar tidak lapar di sekolah.”
Doni: “Oh pantas saja tadi jam istirahat ia tidak ke kantin.”
Ibu Guru: “Ya sudah, Ibu cuma mau bilang begitu. Kalian berbaik-baiklah dengannya. Temani dia agar tak merasa kesepian dan terus berduka.”
[Anggi dan Doni pamit kemudian pulang]
Di rumahnya, Doni terus menerus memikirkan teman barunya, Ridwan. Akhirnya ia mendapatkan suatu ide. Dikabarkannya Anggi dan Mita melalui SMS. Keesokan harinya di jam istirahat….
Doni: “Eh, kalian membawa apa yang aku bilang kemarin, kan?”
Mita: “Bawa dong. Ayo kita dekati Ridwan.”
Anggi: “Ridwan, bolehkah kami bertiga makan bersamamu?”
Ridwan: [kikuk dan kebingungan] “Eh, um.. boleh saja..”
Doni, Anggi, dan Mita mengeluarkan bekal makanan mereka. Ketiganya juga membawa makanan camilan untuk dimakan bersama-sama, tentu saja Ridwan juga kebagian. Dengan makan bersama setiap hari, mereka berharap bisa membuat Ridwan lebih ceria. Setelah makan…
Ridwan: “Terima kasih, teman-teman. Kalian sangat baik kepadaku.”
Mita: “Kamu ini bicara apa, sih? Kita kan teman, wajar saja jika kita saling bersikap baik.”
Semenjak itu Ridwan menjadi semakin kuat karena dukungan teman-teman barunya. Siswa-siswa lain di kelas itu pun banyak yang bergabung membawa bekal untuk dimakan bersama-sama pada jam istirahat. Suasana menjadi semakin menyenangkan.
mungkin segitu saja Contoh Naskah Drama 5 Orang yang bisa saya share kali ini, semoga bermanfaat. sumber: dari berbagai sumber
Detail

Naskah Drama Bertema Komedi

Naskah Drama Bertema Komedi yang bisa silahkan sobat tiru di bawah ini juga mengenai cerita rakyat maaf kalau tidak lucu karena naskah drama ini juga dapat dari blog lain tapi bolehlah untuk sekedar sebagai referensi buat drama di tugas sekolah yang memang silahkan untuk bisa di simak, 
sedikit ilmu Drama (Yunani Kuno: δρᾶμα) adalah satu bentuk karya sastra yang memiliki bagian untuk diperankan oleh aktor. Kosakata ini berasal dari Bahasa Yunani yang berarti "aksi", "perbuatan".

Drama bisa diwujudkan dengan berbagai media: di atas panggung, film, dan atau televisi. Drama juga terkadang dikombinasikan dengan musik dan tarian, sebagaimana sebuah opera (lihatmelodrama).


Judul Naskah Drama: Babad Tanah Minahasa.
Penulis Naskah Drama: Witho B. Abadi
Kategori: Naskah Drama Komedi yang tidak lucu.

Naskah Drama ini dimainkan oleh 5 orang. 4 Pria, 1 wanita. Menjadi 6 orang jika ditambah dengan Narrator.

Pemeran, berdasarkan pemunculan:
Narrator
Lumilumut
Karim A
Trotoar
Opo
Pemeran Pengganti

***

NARRATOR:
Ini adalah legenda rakyat yang diceritakan turun-temurun, dari mulut ke mulut tentang kisah cinta abadi antara sepasang manusia.

Pada abad ke-4 hingga abad ke-7 di wilayah Jawa Barat terdapat kerajaan bercorak Hindu-Budha yaitu kerajaan Tarumanagara yang dilanjutkan dengan Kerajaan Sunda sampai abad ke-16. Pada masa abad ke-7 hingga abad ke-14, kerajaan Buddha Sriwijaya berkembang pesat di Sumatra. Penjelajah Tiongkok I Ching mengunjungi ibukotanya Palembang sekitar tahun 670. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Barat dan Semenanjung Melayu. Abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari masa Gajah Mada termasuk kodifikasi hukum dan dalam kebudayaan Jawa, seperti yang terlihat dalam wiracarita Ramayana.

(Narrator berhenti sejenak)

Mohon maaf, saya salah membaca naskah.
Inilah naskah yang sebenarnya.

Di sebuah tanah asing, seorang putri terdampar setelah diusir dari kerajaannya. Ia ditolong oleh seorang laki-laki dan dirawat di rumahnya. Beberapa hari kemudian, putri itu akhirnya tersadar dari pingsannya.
Lumilumut membuka matanya. Kepalanya terasa pusing. Ketika kesadarannya telah pulih, ia segera waspada dan beranjak bangun namun rasa nyeri di pinggangnya membuat ia harus kembali berbaring.
Setelah rasa nyeri di pinggangnya hilang, ia memandang sekeliling. Ia berada di sebuah kamar yang sederhana namun tertata rapi dan bersih.

(Pintu kamar terbuka, Karim A masuk dengan tongkat di tangannya membawa semangkok obat. Ia masuk sambil meraba-raba dengan tongkatnya, berjalan mendekati tempat tidur dimana Lumilumut berbaring. Tongkat kayunya meliuk-liuk ke sana ke mari mencari jalan hingga akhirnya berhenti di dada Lumilumut.

Karim A:
Ih.. apa ini eh... lombo-lombo...
(menusuk-nusuk dada Lumilumut dengan perlahan dan penasaran)

Lumilumut:
Woi ta pe dada itu tau!
(bangun dan duduk di kasur)

Karim A:
(Terkejut dan mundur beberapa langkah)
Oh, kamu sudah sadar. Maaf saya buta, jadi tidak tahu kalau kamu sudah sadar.

Lumilumut:
Dimana ini?

Karim A:
(Duduk di samping Lumilumut)
Ini kita pe rumah.
(menyodorkan mangkok berisi obat kepada Lumilumut)
Minumlah dulu obat ini, biar kamu cepat sembuh

Lumilumut menerima mangkok berisi obat itu dan meminumnya. Rasanya sangat pahit sehingga ia hampir muntah. Namun ia memaksakan diri menghabiskannya sedikit demi sedikit.

(GAYA DRAMA MURAHAN ON)

Karim A:
Siapakah namamu wahai wanita?

Lumilumut:
Namaku Lumilumut. Aku biasa dipanggil Lumut.

(GAYA DRAMA MURAHAN OFF)

Karim A:
Ooh, nama yang bagus. Kalau saya biasa dipanggil...
(berdiri, menari berkeliling gaya opera)
Karim A

Lumilumut:
Anda seorang tabib?

Karim A:
(Kembali duduk di kasur sambil mengelus-elus jenggotnya.)
(Gaya berpuisi sedih penuh perasaan)
Ahh.. semenjak saya buta, saya menjadi seorang ahli massage alias tukang pijit. Tapi sebelum itu saya pernah belajar ilmu pengobatan . . .
Sayang semenjak saya buta, saya sering salah meramu obat sehingga banyak pasien saya yang mati.

Lumilumut:
(Menyemburkan obat di mulutnya)
Pfffffffffffff!!!
Mangkok di tangan Lumilumut terlepas. Dengan terbatuk-batuk ia berusaha memuntahkan obat yang diminumnya.

Karim A:
(Gaya pidato)
Jangan khawatir! Sebab bukan saya yang meramu obat itu. Saya membelinya di apotik dekat terminal.

Lumilumut:
Oooh, maaf, kita pe kira kwa....

Karim A:
(Masih gaya pidato)
Tidak apa-apa. Itu juga obat kadaluarsa yang saya beli setengah harga.

Lumilumut:
Hoeeekkk!!
(Memasukkan jarinya sedalam mungkin ke dalam kerongkongannya, memaksa diri memuntahkan sisa-sisa obat yang terlanjur ditelan)

Karim A:
(Berpose narsis)
Saya memang tabib yang hebat. HUAHAHAHAHA...!!!

Lumilumut:
Eh, kalu boleh tau, om yang da tolong pa kita kong bawa kamari?

Bukang! Bukang kita. Kita talalu hina kalu mo samakan deng orang yang da tolong pa ngana itu. Bahkan... untuk mencuci bajunya pun aku tak layak!

Lumilumut:
Lalu, siapakah gerangan orang tersebut yang telah menolong saya?

Di depan pintu muncul Trotoar.

Trotoar:
(Menunjuk dadanya)
Itu aku!

Lumilumut:
(histeris)
Aaahh.. Suleeee...

Trotoar:
Bukan! Aku bukan Sule!

Lumilumut:
Lalu, siapa anda?

Trotoar:
(Pose)
I'm Batman!
Bukan!
Aku adalah...
(menari berkeliling gaya opera)
Karim B!!!

Karim A:
Ruci! Kita pe nama so Karim A, masa le ngana Karim B. Cari nama laeng kwa.

Trotoar:
Baiklah!
Aku adalah...
(menari berkeliling gaya opera)
Agneeeeer!!!

Karim A:
Yah noh. So rusak ni cirita kalu Agner pe nama ada di sejarah Minahasa.

Trotoar:
Baiklah!
Sebenarnya aku adalah...
(menari berkeliling gaya opera)
Tro... Toooooooar!

Karim A:
Perkenalkan, ini Trotoar. Dialah yang menyelamatkanmu dan membawamu ke sini.

Lumilumut:
Oh, terima kasih. Aku tak dapat membalas kebaikanmu.

Trotoar:
Nyanda perlu. Waktu kita ganti ngana pe baju kita so pegang-pegang pa ngana. Anggap jo lunas.

Lumulumut:
Ih.. macico!

Tiba-tiba terdengar suara tawa. Seorang perwira Kerajaan Utara bernama Opo masuk.

Opo:
Hahahahaha...

Trotoar:
Sapa ngoni? Mo ba apa dimana deng sapa?

Opo:
Aku adalah...
(menari berkeliling gaya opera)
Ooooo... pooooo...!!!
Dan aku adalah panglima dari Kerajaan Utara.
Kami mencari seorang gadis bernama Lumilumut. Kami tahu dia berada di sini.

Trotoar:
Nyanda ada nama Lumilumut di sini!

Lumilumut:
Kita! Kita pe nama Lumilumut. Kyapa da perlu apa?

Karim A:
Iiiiihh... pa bodok daaang.

Opo:
Anak buah! Seret wanita itu kemari!

Trotoar:
Anak buah sapa ini? Ngana da maso cuma sandiri.

Opo:
Oh, io kote, lupa.
Lumut! Kau harus ikut untuk menjadi istriku!

Trotoar:
(Menghadang)
Tunggu!
Dia bukan Lumilumut!
Namanya adalah Wawu!

Opo:
Nga pe kira torang biongo? Napa Wawu sana da bakar ikang di pante.
Minggir! Atau kau akan menjadi mayat!


Trotoar:
Baiklah!
Silahkan. Ayo jangan sungkan-sungkan, anggap saja rumah sendiri.
(mempersilahkan para tentara (Opo sendiri) untuk menangkap Lumilumut)
 
Lumilumut:
Ih, ih ih bagimana le ini. Masa ngana se biar dorang mo loku pa kita.
 
Trotoar:
Kalau begitu kau harus melangkahi mayatku!
 
Opo:
Rupanya kau punya nyali juga anak muda.
Sebutkan account Facebookmu biar aku tahu siapa yang kubunuh!
 
Trotoar:
Cih, aku tak sudi menerima permintaan pertemanan dengan orang seperti kau!
 
Opo:
Rupanya kau memang sudah bosan hidup! Bersiaplah menerima kematianmu!
(bersiap bertempur)
 
Trotoar:
Tunggu!
 
Opo:
Ada apa?
 
Trotoar:
Update status dulu di FB hehehe.
(mengambil HP dan update status)
Sedang bertarung dengan @Opo, panglima Kerajaan Utara.
Oke, klar!
 
Opo:
Sekarang terimalah kematianmu!
(bersiap menyerang)
 
Karim A:
Tunggu!
(memanggil Trotoar dan Opo mendekat. Menjelaskan dengan gaya wasit tinju)
Dilarang memukul wajah, dilarang memukul di bawah perut, belakang kepala, kemaluan dan punggung.
Paham?
Okay, Fight!
 
(Trotoar dan Opo memasang kuda-kuda tempur)
 
Trotoar:
Karim, cepat bawa Lumut pergi dari sini.
 
Karim A:
Ayo kita pergi. Kau tunjukkan jalan.
 
(Lumulumut segera membawa Karim pergi).
 
Opo:
Sekarang tinggal kita berdua. Menyerahlah.
 
Trotoar:
Tidak akan pernah!
 
Opo:
Kalau begitu matilah!
Hiaaat...
(Opo menyerang Trotoar)
 
Trotoar:
Tunggu!
 
Opo:
Ih, bagimana le ini dari tadi tunggu-tunggu trus!
 
Trotoar:
Kita kan pemeran utama, nda mungkin mo main adegan berbahaya.
(berteriak memanggil pemeran pengganti)
Pemeran pengantiiiii...
 
(Pemeran pengganti masuk dan mengambil posisi tempur)
 
Opo:
Ah, so ruci komang ini. Masa ngana pake pemeran pengganti kita nda?
 
Trotoar:
(menghibur Opo)
So bagitu po. Itu no depe beda antara jadi barol deng jadi musuh.
 
Opo:
Sudah! Ayo selesaikan pertarungan ini!
 
(Adegan laga)
 
(Setelah pertarungan sengit, Opo berhasil menjatuhkan Pemeran Pengganti dan menodongnya)
 
Opo:
Sekarang pergilah ke neraka!
(bersiap membunuh pemeran pengganti)
 
Trotoar:
Tunggu!
 
Opo:
No skarang mo tunggu apa le komaling?
 
Trotoar:
Sabar... kan so abis adegan laga, jadi somo kita ulang yang main.
 
(Trotoar menggantikan posisi pemeran pengganti)
 
Opo:
Sekarang pergilah kau ke neraka!
(bersiap membunuh Trotoar)
 
Trotoar:
Tunggu!
 
Opo:
(berhenti, berkacak pinggang dengan sangat kesal, menarik napas panjang, geleng-geleng kepala)
So sesat komaling ini, so sesat.
(menenangkan dirinya)
Kyapa komang skarang? Bilang jo.
 
Trotoar:
Bagini, kita kan pemeran utama ni cirita. Kalu kita mati berarti tamat dang ni cirita.
 
Opo:
Hi, kong bagimana dang?
 
Trotoar:
Yaaaa, berarti musti ngana yg mati. Nimbole kita.
 
Opo:
Ha? Memang musti bagitu so?
 
Trotoar:
Yah, so bagitu di naskah, mo bagimana lei.
 
Opo:
(pasrah)
No mana-mana jo dang.
 
(Trotoar berdiri lalu membunuh Opo. Opo terkapar meregang nyawa)
 
Trotoar:
Wahai panglima Kerajaan Utara. Kau memang hebat, tapi sayang, kemampuanmu tak dapat menandingi golok saktiku!
 
Opo:
Ho oh, mana mana jo pa ngana.
 
Trotoar:
Hahaha... akulah Trotoar, pendekar terhebat di tanah ini!
 
(Lumilumut dan Karim A masuk)
 
Lumilumut:
Trotoar... untunglah kau selamat.
 
Trotoar:
Lumut... sekarang tidak ada lagi yang akan mengganggumu
 
(Trotoar berlari ke sudut panggung, Trotoar ke sudut panggung yang satunya lagi)
 
(GAYA DRAMA MURAHAN ON)
 
Lumilumut:
Oh... Trotoar...
 
Trotoar:
Oh... Lumut...
 
(Dialog diulang-ulang selama Trotoar dan Lumilumut saling mendekat)
 
Trotoar:
Oh Lumut... ada yang ingin aku katakan padamu...
 
Lumilumut:
Katakanlah wahai Trotoar pahlawanku... katakanlah...
 
Trotoar:
Sebenarnya... aku...
 
Lumilumut:
Katakanlah... Katakan... jangan ragu...
 
Trotoar:
Sebenarnya... aku... mencintai....
 
Lumilumut:
Oh... aku juga mencintaimu
(bergerak memeluk Trotoar)
 
Trotoar:
(menghindar dari pelukan Lumilumut)
Karim!
 
(Trotoar dan Karim A saling berpegangan tangan dengan mesra.)
 
Lumilumut:
(menangis, kemudian mendekati mayat Opo, mengambil pedangnya)
(bersuara lirih)
Kalu memang nda ada yg cinta pa kita, lebe bae mati!
 
(Trotoar dan Karim A tidak mempedulikan)
 
(senyap)
 
Lumilumut:
(bersuara lebih keras)
Kalu memang nda ada yg cinta pa kita, lebe bae mati!
 
(Trotoar dan Karim A tidak mempedulikan)
 
(senyap)
 
Lumilumut:
(Berteriak keras)
Woi, mo bunuh diri kita!
 
(Trotoar kaget dan bergegas mencegah Lumilumut bunuh diri, namun terlambat, Lumilumut terlanjur mati duluan)
 
Karim A:
Mati dia?
 
Trotoar:
Io
 
Karim:
Yah noh, rusak cirita.
 
Trotoar:
Adoh, kong bagimana dang ini?
Biar besae, mar cuma dia satu-satunya parampuang di tanah ini.
(Berteriak sambil menghadap langit)
Kong bagimana torang mo membangun peradaban daaaaaaang...!
 
NARRATOR:
Demikianlah akhir dari cerita ini. Trotoar hidup berdua dengan Karim sampai saatnya Toar dan Lumimuut datang ke tanah ini dan membangun peradaban Minahasa.

*** Tamat ***
 
Kalau rekan kurang nyambung dengan ceritanya, sebaiknya lihat bagian awal dari cerita ini di Naskah Drama 5 Orang - Komedi.


Naskah Drama Bertema Komedi yang bisa silahkan sobat tiru di bawah ini juga mengenai cerita rakyat maaf kalau tidak lucu karena naskah drama ini juga dapat dari blog lain tapi bolehlah untuk sekedar sebagai referensi buat drama di tugas sekolah yang memang silahkan untuk bisa di simak, 
sedikit ilmu Drama (Yunani Kuno: δρᾶμα) adalah satu bentuk karya sastra yang memiliki bagian untuk diperankan oleh aktor. Kosakata ini berasal dari Bahasa Yunani yang berarti "aksi", "perbuatan".

Drama bisa diwujudkan dengan berbagai media: di atas panggung, film, dan atau televisi. Drama juga terkadang dikombinasikan dengan musik dan tarian, sebagaimana sebuah opera (lihatmelodrama).


Judul Naskah Drama: Babad Tanah Minahasa.
Penulis Naskah Drama: Witho B. Abadi
Kategori: Naskah Drama Komedi yang tidak lucu.

Naskah Drama ini dimainkan oleh 5 orang. 4 Pria, 1 wanita. Menjadi 6 orang jika ditambah dengan Narrator.

Pemeran, berdasarkan pemunculan:
Narrator
Lumilumut
Karim A
Trotoar
Opo
Pemeran Pengganti

***

NARRATOR:
Ini adalah legenda rakyat yang diceritakan turun-temurun, dari mulut ke mulut tentang kisah cinta abadi antara sepasang manusia.

Pada abad ke-4 hingga abad ke-7 di wilayah Jawa Barat terdapat kerajaan bercorak Hindu-Budha yaitu kerajaan Tarumanagara yang dilanjutkan dengan Kerajaan Sunda sampai abad ke-16. Pada masa abad ke-7 hingga abad ke-14, kerajaan Buddha Sriwijaya berkembang pesat di Sumatra. Penjelajah Tiongkok I Ching mengunjungi ibukotanya Palembang sekitar tahun 670. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Barat dan Semenanjung Melayu. Abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari masa Gajah Mada termasuk kodifikasi hukum dan dalam kebudayaan Jawa, seperti yang terlihat dalam wiracarita Ramayana.

(Narrator berhenti sejenak)

Mohon maaf, saya salah membaca naskah.
Inilah naskah yang sebenarnya.

Di sebuah tanah asing, seorang putri terdampar setelah diusir dari kerajaannya. Ia ditolong oleh seorang laki-laki dan dirawat di rumahnya. Beberapa hari kemudian, putri itu akhirnya tersadar dari pingsannya.
Lumilumut membuka matanya. Kepalanya terasa pusing. Ketika kesadarannya telah pulih, ia segera waspada dan beranjak bangun namun rasa nyeri di pinggangnya membuat ia harus kembali berbaring.
Setelah rasa nyeri di pinggangnya hilang, ia memandang sekeliling. Ia berada di sebuah kamar yang sederhana namun tertata rapi dan bersih.

(Pintu kamar terbuka, Karim A masuk dengan tongkat di tangannya membawa semangkok obat. Ia masuk sambil meraba-raba dengan tongkatnya, berjalan mendekati tempat tidur dimana Lumilumut berbaring. Tongkat kayunya meliuk-liuk ke sana ke mari mencari jalan hingga akhirnya berhenti di dada Lumilumut.

Karim A:
Ih.. apa ini eh... lombo-lombo...
(menusuk-nusuk dada Lumilumut dengan perlahan dan penasaran)

Lumilumut:
Woi ta pe dada itu tau!
(bangun dan duduk di kasur)

Karim A:
(Terkejut dan mundur beberapa langkah)
Oh, kamu sudah sadar. Maaf saya buta, jadi tidak tahu kalau kamu sudah sadar.

Lumilumut:
Dimana ini?

Karim A:
(Duduk di samping Lumilumut)
Ini kita pe rumah.
(menyodorkan mangkok berisi obat kepada Lumilumut)
Minumlah dulu obat ini, biar kamu cepat sembuh

Lumilumut menerima mangkok berisi obat itu dan meminumnya. Rasanya sangat pahit sehingga ia hampir muntah. Namun ia memaksakan diri menghabiskannya sedikit demi sedikit.

(GAYA DRAMA MURAHAN ON)

Karim A:
Siapakah namamu wahai wanita?

Lumilumut:
Namaku Lumilumut. Aku biasa dipanggil Lumut.

(GAYA DRAMA MURAHAN OFF)

Karim A:
Ooh, nama yang bagus. Kalau saya biasa dipanggil...
(berdiri, menari berkeliling gaya opera)
Karim A

Lumilumut:
Anda seorang tabib?

Karim A:
(Kembali duduk di kasur sambil mengelus-elus jenggotnya.)
(Gaya berpuisi sedih penuh perasaan)
Ahh.. semenjak saya buta, saya menjadi seorang ahli massage alias tukang pijit. Tapi sebelum itu saya pernah belajar ilmu pengobatan . . .
Sayang semenjak saya buta, saya sering salah meramu obat sehingga banyak pasien saya yang mati.

Lumilumut:
(Menyemburkan obat di mulutnya)
Pfffffffffffff!!!
Mangkok di tangan Lumilumut terlepas. Dengan terbatuk-batuk ia berusaha memuntahkan obat yang diminumnya.

Karim A:
(Gaya pidato)
Jangan khawatir! Sebab bukan saya yang meramu obat itu. Saya membelinya di apotik dekat terminal.

Lumilumut:
Oooh, maaf, kita pe kira kwa....

Karim A:
(Masih gaya pidato)
Tidak apa-apa. Itu juga obat kadaluarsa yang saya beli setengah harga.

Lumilumut:
Hoeeekkk!!
(Memasukkan jarinya sedalam mungkin ke dalam kerongkongannya, memaksa diri memuntahkan sisa-sisa obat yang terlanjur ditelan)

Karim A:
(Berpose narsis)
Saya memang tabib yang hebat. HUAHAHAHAHA...!!!

Lumilumut:
Eh, kalu boleh tau, om yang da tolong pa kita kong bawa kamari?

Bukang! Bukang kita. Kita talalu hina kalu mo samakan deng orang yang da tolong pa ngana itu. Bahkan... untuk mencuci bajunya pun aku tak layak!

Lumilumut:
Lalu, siapakah gerangan orang tersebut yang telah menolong saya?

Di depan pintu muncul Trotoar.

Trotoar:
(Menunjuk dadanya)
Itu aku!

Lumilumut:
(histeris)
Aaahh.. Suleeee...

Trotoar:
Bukan! Aku bukan Sule!

Lumilumut:
Lalu, siapa anda?

Trotoar:
(Pose)
I'm Batman!
Bukan!
Aku adalah...
(menari berkeliling gaya opera)
Karim B!!!

Karim A:
Ruci! Kita pe nama so Karim A, masa le ngana Karim B. Cari nama laeng kwa.

Trotoar:
Baiklah!
Aku adalah...
(menari berkeliling gaya opera)
Agneeeeer!!!

Karim A:
Yah noh. So rusak ni cirita kalu Agner pe nama ada di sejarah Minahasa.

Trotoar:
Baiklah!
Sebenarnya aku adalah...
(menari berkeliling gaya opera)
Tro... Toooooooar!

Karim A:
Perkenalkan, ini Trotoar. Dialah yang menyelamatkanmu dan membawamu ke sini.

Lumilumut:
Oh, terima kasih. Aku tak dapat membalas kebaikanmu.

Trotoar:
Nyanda perlu. Waktu kita ganti ngana pe baju kita so pegang-pegang pa ngana. Anggap jo lunas.

Lumulumut:
Ih.. macico!

Tiba-tiba terdengar suara tawa. Seorang perwira Kerajaan Utara bernama Opo masuk.

Opo:
Hahahahaha...

Trotoar:
Sapa ngoni? Mo ba apa dimana deng sapa?

Opo:
Aku adalah...
(menari berkeliling gaya opera)
Ooooo... pooooo...!!!
Dan aku adalah panglima dari Kerajaan Utara.
Kami mencari seorang gadis bernama Lumilumut. Kami tahu dia berada di sini.

Trotoar:
Nyanda ada nama Lumilumut di sini!

Lumilumut:
Kita! Kita pe nama Lumilumut. Kyapa da perlu apa?

Karim A:
Iiiiihh... pa bodok daaang.

Opo:
Anak buah! Seret wanita itu kemari!

Trotoar:
Anak buah sapa ini? Ngana da maso cuma sandiri.

Opo:
Oh, io kote, lupa.
Lumut! Kau harus ikut untuk menjadi istriku!

Trotoar:
(Menghadang)
Tunggu!
Dia bukan Lumilumut!
Namanya adalah Wawu!

Opo:
Nga pe kira torang biongo? Napa Wawu sana da bakar ikang di pante.
Minggir! Atau kau akan menjadi mayat!


Trotoar:
Baiklah!
Silahkan. Ayo jangan sungkan-sungkan, anggap saja rumah sendiri.
(mempersilahkan para tentara (Opo sendiri) untuk menangkap Lumilumut)
 
Lumilumut:
Ih, ih ih bagimana le ini. Masa ngana se biar dorang mo loku pa kita.
 
Trotoar:
Kalau begitu kau harus melangkahi mayatku!
 
Opo:
Rupanya kau punya nyali juga anak muda.
Sebutkan account Facebookmu biar aku tahu siapa yang kubunuh!
 
Trotoar:
Cih, aku tak sudi menerima permintaan pertemanan dengan orang seperti kau!
 
Opo:
Rupanya kau memang sudah bosan hidup! Bersiaplah menerima kematianmu!
(bersiap bertempur)
 
Trotoar:
Tunggu!
 
Opo:
Ada apa?
 
Trotoar:
Update status dulu di FB hehehe.
(mengambil HP dan update status)
Sedang bertarung dengan @Opo, panglima Kerajaan Utara.
Oke, klar!
 
Opo:
Sekarang terimalah kematianmu!
(bersiap menyerang)
 
Karim A:
Tunggu!
(memanggil Trotoar dan Opo mendekat. Menjelaskan dengan gaya wasit tinju)
Dilarang memukul wajah, dilarang memukul di bawah perut, belakang kepala, kemaluan dan punggung.
Paham?
Okay, Fight!
 
(Trotoar dan Opo memasang kuda-kuda tempur)
 
Trotoar:
Karim, cepat bawa Lumut pergi dari sini.
 
Karim A:
Ayo kita pergi. Kau tunjukkan jalan.
 
(Lumulumut segera membawa Karim pergi).
 
Opo:
Sekarang tinggal kita berdua. Menyerahlah.
 
Trotoar:
Tidak akan pernah!
 
Opo:
Kalau begitu matilah!
Hiaaat...
(Opo menyerang Trotoar)
 
Trotoar:
Tunggu!
 
Opo:
Ih, bagimana le ini dari tadi tunggu-tunggu trus!
 
Trotoar:
Kita kan pemeran utama, nda mungkin mo main adegan berbahaya.
(berteriak memanggil pemeran pengganti)
Pemeran pengantiiiii...
 
(Pemeran pengganti masuk dan mengambil posisi tempur)
 
Opo:
Ah, so ruci komang ini. Masa ngana pake pemeran pengganti kita nda?
 
Trotoar:
(menghibur Opo)
So bagitu po. Itu no depe beda antara jadi barol deng jadi musuh.
 
Opo:
Sudah! Ayo selesaikan pertarungan ini!
 
(Adegan laga)
 
(Setelah pertarungan sengit, Opo berhasil menjatuhkan Pemeran Pengganti dan menodongnya)
 
Opo:
Sekarang pergilah ke neraka!
(bersiap membunuh pemeran pengganti)
 
Trotoar:
Tunggu!
 
Opo:
No skarang mo tunggu apa le komaling?
 
Trotoar:
Sabar... kan so abis adegan laga, jadi somo kita ulang yang main.
 
(Trotoar menggantikan posisi pemeran pengganti)
 
Opo:
Sekarang pergilah kau ke neraka!
(bersiap membunuh Trotoar)
 
Trotoar:
Tunggu!
 
Opo:
(berhenti, berkacak pinggang dengan sangat kesal, menarik napas panjang, geleng-geleng kepala)
So sesat komaling ini, so sesat.
(menenangkan dirinya)
Kyapa komang skarang? Bilang jo.
 
Trotoar:
Bagini, kita kan pemeran utama ni cirita. Kalu kita mati berarti tamat dang ni cirita.
 
Opo:
Hi, kong bagimana dang?
 
Trotoar:
Yaaaa, berarti musti ngana yg mati. Nimbole kita.
 
Opo:
Ha? Memang musti bagitu so?
 
Trotoar:
Yah, so bagitu di naskah, mo bagimana lei.
 
Opo:
(pasrah)
No mana-mana jo dang.
 
(Trotoar berdiri lalu membunuh Opo. Opo terkapar meregang nyawa)
 
Trotoar:
Wahai panglima Kerajaan Utara. Kau memang hebat, tapi sayang, kemampuanmu tak dapat menandingi golok saktiku!
 
Opo:
Ho oh, mana mana jo pa ngana.
 
Trotoar:
Hahaha... akulah Trotoar, pendekar terhebat di tanah ini!
 
(Lumilumut dan Karim A masuk)
 
Lumilumut:
Trotoar... untunglah kau selamat.
 
Trotoar:
Lumut... sekarang tidak ada lagi yang akan mengganggumu
 
(Trotoar berlari ke sudut panggung, Trotoar ke sudut panggung yang satunya lagi)
 
(GAYA DRAMA MURAHAN ON)
 
Lumilumut:
Oh... Trotoar...
 
Trotoar:
Oh... Lumut...
 
(Dialog diulang-ulang selama Trotoar dan Lumilumut saling mendekat)
 
Trotoar:
Oh Lumut... ada yang ingin aku katakan padamu...
 
Lumilumut:
Katakanlah wahai Trotoar pahlawanku... katakanlah...
 
Trotoar:
Sebenarnya... aku...
 
Lumilumut:
Katakanlah... Katakan... jangan ragu...
 
Trotoar:
Sebenarnya... aku... mencintai....
 
Lumilumut:
Oh... aku juga mencintaimu
(bergerak memeluk Trotoar)
 
Trotoar:
(menghindar dari pelukan Lumilumut)
Karim!
 
(Trotoar dan Karim A saling berpegangan tangan dengan mesra.)
 
Lumilumut:
(menangis, kemudian mendekati mayat Opo, mengambil pedangnya)
(bersuara lirih)
Kalu memang nda ada yg cinta pa kita, lebe bae mati!
 
(Trotoar dan Karim A tidak mempedulikan)
 
(senyap)
 
Lumilumut:
(bersuara lebih keras)
Kalu memang nda ada yg cinta pa kita, lebe bae mati!
 
(Trotoar dan Karim A tidak mempedulikan)
 
(senyap)
 
Lumilumut:
(Berteriak keras)
Woi, mo bunuh diri kita!
 
(Trotoar kaget dan bergegas mencegah Lumilumut bunuh diri, namun terlambat, Lumilumut terlanjur mati duluan)
 
Karim A:
Mati dia?
 
Trotoar:
Io
 
Karim:
Yah noh, rusak cirita.
 
Trotoar:
Adoh, kong bagimana dang ini?
Biar besae, mar cuma dia satu-satunya parampuang di tanah ini.
(Berteriak sambil menghadap langit)
Kong bagimana torang mo membangun peradaban daaaaaaang...!
 
NARRATOR:
Demikianlah akhir dari cerita ini. Trotoar hidup berdua dengan Karim sampai saatnya Toar dan Lumimuut datang ke tanah ini dan membangun peradaban Minahasa.

*** Tamat ***
 
Kalau rekan kurang nyambung dengan ceritanya, sebaiknya lihat bagian awal dari cerita ini di Naskah Drama 5 Orang - Komedi.



Detail

Naskah Drama 5 Orang pemain


Naskah Drama 5 Orang Pemain -berikut adalah contoh untuk Naskah Drama dengan sedikit membantu sobat ang mungkin mendapatkan tugas sekolah untuk membuat Naskah Drama Yang dimainkan oleh 5 Orang Pemain, nahhhh silahkan berikut adalah Naskah Drama Untuk 5 Orang Pemain dan Anda jangan susah-susah mencari Naskah Drama 5 Orang Pemain Tinggal Download aja Naskah Drama Untuk 5 Orang Pemain salah satunya dibawah ini. ehhh iya kalau sudah di doload harap naskahnya di ganti di sini cuma memberikan gambaranya saja jadi silahkan.
File Download :
- File Tipe : Ms. Word
Semoga Naskah Drama Untuk 5 Orang Pemain ini bisa membantu anda dalam menyelesaikan tugas atau garapan dan kami ucapkan selamat berproses semoga dalam Proses kreatif tidak ada kendala apapun.

Naskah Drama 5 Orang Pemain -berikut adalah contoh untuk Naskah Drama dengan sedikit membantu sobat ang mungkin mendapatkan tugas sekolah untuk membuat Naskah Drama Yang dimainkan oleh 5 Orang Pemain, nahhhh silahkan berikut adalah Naskah Drama Untuk 5 Orang Pemain dan Anda jangan susah-susah mencari Naskah Drama 5 Orang Pemain Tinggal Download aja Naskah Drama Untuk 5 Orang Pemain salah satunya dibawah ini. ehhh iya kalau sudah di doload harap naskahnya di ganti di sini cuma memberikan gambaranya saja jadi silahkan.
File Download :
- File Tipe : Ms. Word
Semoga Naskah Drama Untuk 5 Orang Pemain ini bisa membantu anda dalam menyelesaikan tugas atau garapan dan kami ucapkan selamat berproses semoga dalam Proses kreatif tidak ada kendala apapun.

Detail
http://www.toko-baju-online.com/

LIKE Facebook Kita Dapatkan Koleksi Terbaru TOKO BAJU ONLINE terpercaya Indonesia



TESTIMONI
Lihat Testimoni Kita Klik Disini

TERIMA KASIH ...
 
Copyright © 2016. Rasa-Stroberi
Proudly powered by Blogger